Dibayang-bayangi sejumlah persoalan, seperti aksi unjuk rasa, mogok, dan ketidaksiapan sarana, perhelatan akbar Piala Dunia 2014 akan dimulai pada Jumat (13/6/2014) dini hari WIB di Sao Paulo, Brasil. Pesta pembukaan serta karnaval yang meriah telah disiapkan untuk memukau warga dunia.
Kurang dari 24 jam menjelang pembukaan Piala Dunia, jalan raya di sekitar Stadion Itaquerao, Sao Paolo, dikosongkan dari kendaraan untuk mengamankan karnaval sepak bola, bagian dari tradisi yang mendarah daging di Brasil. Sementara itu, Brasil mengeluarkan siaga satu dengan mengerahkan 147.000 polisi dan tentara untuk menjamin tidak adanya gangguan ataupun sabotase terhadap pesta akbar itu.
Pesta pembukaan ini dipastikan akan dimeriahkan 600 artis, termasuk superstar pop Jennifer Lopez, yang sempat diisukan batal datang ke Brasil. Bersama bintang rapper, Pitbull, dan kelompok penabuh drum asal Brasil, Olodum, JLo akan membawakan lagu tema Piala Dunia 2014 di Brasil yang berjudul ”We Are One” (kita adalah satu).
Di Rio De Janeiro, kota terbesar dan terpadat di Brasil, 600.000 wisatawan asing penggemar sepak bola telah berdatangan dengan penuh antusias. Mereka menyempatkan diri menikmati Pantai Copacabana sebelum larut dalam pesta Piala Dunia. Artis papan atas Hollywood, Leonardo DiCaprio, pun ikut datang untuk menonton pertandingan Piala Dunia menggunakan kapal pesiarnya.
Sebanyak 1.200 orang telah mempersiapkan pesta ini selama berbulan-bulan. Sebuah panggung dan layar LED raksasa yang terbuat dari 90.000 gugus lampu telah disiapkan di tengah lapangan untuk pesta pembukaan yang menurut rencana akan dihadiri Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa Ban Ki-moon beserta 12 kepala negara itu.
Presiden FIFA Sepp Blatter, yang posisinya tengah digoyang menyusul skandal suap FIFA terkait penunjukan Qatar sebagai tuan rumah Piala Dunia 2022, meyakini bahwa berbagai isu, kritik, pesimisme, dan keraguan publik dunia akan hilang begitu kick-off pertandingan Brasil dan Kroasia dilangsungkan, Jumat pukul 03.00 WIB.
”Begitu turnamen dimulai, saya kira mood kita semua akan membaik. Kita larut dalam sukacita,” ujar dia.
Meskipun masih dihantui ancaman mogok, antara lain dari para pekerja kereta bawah tanah Sao Paolo dan Rio De Janeiro, Presiden Brasil Dilma Roussef menegaskan, Brasil siap menyelenggarakan hajatan Piala Dunia. Sepanjang sejarah, belum pernah terjadi sebelumnya penolakan dan gangguan masif menjelang Piala Dunia seperti yang terjadi di Brasil akhir-akhir ini.
Animo terbelahDilma Roussef mengumpamakan persiapan penyelenggaraan Piala Dunia itu ibarat laga nan menegangkan di lapangan hijau. ”Menyiapkan turnamen ini ibaratnya bermain (sepak bola). Berpeluh keringat, bahkan sering harus berjuang dan menderita dengan kemungkinan waktu tambahan dan adu penalti. Namun, kemenangan dan perayaan sepadan dengan perjuangan itu,” ujar Roussef yang akan kembali bertarung dalam pemilu Brasil, akhir tahun ini.
Sementara itu, animo warga Brasil terhadap perhelatan ini masih terbelah dua. Sebagian larut dalam ”demam” sepak bola. Mereka menghiasi rumah dan jalan dengan cat hijau dan kuning, warna kebanggaan tim nasional sepak bola mereka. Di lain pihak, sebagian lainnya terus memprotes perhelatan yang menghabiskan biaya ratusan triliun rupiah itu. Brasil saat ini masih berkutat dengan persoalan kemiskinan.
Dalam survei baru-baru ini, yang dirilis surat kabar Brasil, O Globo, sebanyak 55 persen warga Brasil menentang dan kurang setuju dengan Piala Dunia. ”Saat saya memasang bendera, seseorang menghentikan saya, dan bertanya, ’apa kamu mendukung politisi? Kamu mendukung FIFA?’ Saya jawab, tentu tidak. Saya mendukung Selecao (timnas Brasil). Ini adalah sepak bola, bukan politik,” ujar Miguel Goncalves, warga Rio, bercerita mengenai terpecahnya animo warga Brasil.
Sejalan dengan semangat tema lagu ”We Are One”, pelatih Brasil Luiz Felipe Scolari mengajak warga Brasil untuk bersatu mendukung timnas sepak bola mereka. Brasil berambisi mencetak sejarah untuk meraih Piala Dunia keenam di tanah sendiri. Di 1950, ketika terakhir kali menjadi tuan rumah, Brasil gagal mempersembahkan Piala Dunia setelah takluk dari tetangga mereka, Uruguay, di final.
Brasil pun berambisi meneruskan tradisi bahwa negara asal Amerika Latin selalu menenangi Piala Dunia yang dilangsungkan di benua itu. ”Kepada seluruh warga Brasil, saya sampaikan bahwa waktunya kini telah tiba. Ini adalah Piala Dunia kita,” ujar Scolari, pelatih yang mengantar Brasil juara dunia di 2002, dalam jumpa pers menjelang laga melawan Kroasia.
Pesta Piala Dunia segera dimulai!